Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2016

Sejarah Desa Peganjaran

Desa Peganjaran merupakan salah satu dari 10 desa yang menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, dengan batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Karangmalang (Gebog), Desa Besito (Gebog), dan Desa Bae,
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Purworejo (Bae), Desa Panjang (Bae), dan Desa Singocandi (Kota).
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bakalan Krapyak (Kaliwungu) dan Desa Gribig (Gebog).
- Sebelah Barat berbatasan dengan  Desa Gribig (Gebog) dan Desa Karangmalang (Gebog).

Menurut cerita yang beredar secara turun temurun yang disampaikan dari mulut ke mulut yang kami peroleh dari beberapa sumber: Desa Peganjaran berdiri bermula dari penggabungan dari 3 Desa yang masing-masing dipimpin oleh Petinggi/ Kepala Desa. Adapun Desa-Desa tersebut yaitu: Desa Delingo, Desa Jatisari, dan Desa Blender.

Konon menurut shohibul hikayah di Desa tetangga (Desa Gedangsewu) ada seorang yang suka berbuat onar (maling/merampok) yang konon dia adalah seorang yang punya kelebihan yaitu seorang yang sakti. Maling atau rampok tersebut bernama Minak Koncar. Karena masyarakat merasa resah atas olah atau sepak terjang dari si Minak Koncar tersebut, sedangkan masyarakat setempat juga tidak bisa menangkap, maka masyarakat melaporkannya kepada Bupati.

Setelah Bupati yang berkuasa pada zaman itu menerima laporan dari masyarakat, akhirnya Beliau menyelenggarakan sayembara. Isi sayembara adalah: Barang yang bisa menangkap hidup/mati sang maling/rampok tersebut yang membuat resah masyarakat akan mendapat ganjaran dari Bupati berupa tanah seluas 2 Ha. Tanah ganjaran itu terletak di wilayah Desa Gedangsewu.

Konon orang yang berhasil menangkap sang maling (Minak Koncar) adalah salah satu warga Desa Blender. Kemudian Sang maling diarak ke Kaunderan (Kabupaten) kemudian diserahkan kepada Bupati. Namun tidak diketahui nama dari orang yang berhasil menangkap Sang maling tersebut. Sesuai dengan isi sayembara, maka orang tersebut diberi ganjaran berupa tanah seluas 2 Ha. Karena tanah tersebut berada diwilayah Desa Gedangsewu, sedang yang mendapat ganjaran berupa tanah adalah orang dari Desa Blender, maka oleh para tokoh pemuka Desa yang terdiri dari Desa Delingo, Jatisari, Blender ditambah Desa Gedangsewu mengadakan musyawaroh untuk mengambil kesepakatan yang terbaik.

Hasil dari musyawaroh tersebut adalah: Para tokoh Desa sepakat untuk menggabungkan keempat Desa tersebut menjadi satu Desa. Sedang nama Desa tersebut disepakati bernama “Peganjaran“ dan dipimpin oleh seorang Kepala Desa/Petinggi. Nama "Peganjaran" diambil dari tanah yang diberikan Bupati sebagai ganjaran atas keberhasilan dalam menangkap maling yang bernama Minak Koncar. Kepala Desa/Petinggi Peganjaran yang pertama kali adalah bernama “Suro Dikdjojo Wakiyan”.

Demikian sekilas sejarah Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Untuk kebenaran secara pasti sejarah Desa Peganjaran tidak bisa dikatakan 100 % benar karena itu semua bersumber dari cerita atau legenda.

Rabu, 13 Juni 2012

Asal-Usul Desa Prambatan



Asal-Usul nama desa Prambatan. Desa yang terletak di Kecamatan Kaliwungu tersebut, lagi-lagi menurut legenda yang turun temurun melalui gethok tular dari generasi terdahulu ke generasi penerusnya yang lebih muda, berkait dengan kisah Ratu Kalinyamat, istri Pangeran Hadirin yang tewas di tangan Haryo Penangsang.

Kepada penguasa saat itu, yakni Sunan Kudus, ia bermaksud menuntut balas atas kematian suaminya. Namun ternyata, sang Sunan menolak upaya tersebut. Ratu Kalinyamat pun akhirnya kembali ke Jepara, tempat asalnya, diiringi pengikutnya dengan tertatih-tatih (merambat-rambat) karena sedih tuntutannya untuk membalas kematian suaminya tidak disetujui. Maka, pengikutnya pun mengamati perilaku Sang Ratu, dan akhirnya menamakan daerah tersebut dengan Desa Prambatan.

Rasanya memang sulit, untuk meneliti orisinalitas legenda-legenda tentang asal-usul nama suatu daerah tersebut. Mengingat, dalam penggalian datanya, seperti yang dilakukan tim dari Disparbud Kudus melalui Kasi KKNT dalam menyusun data kesejarahan 2004, unsur subjektivitas penutur cerita bukan tidak mungkin turut memengaruhi legenda yang ada.

''Sekali lagi, meski berasal dari sumber warga lokal, legenda tersebut perlu untuk dikaji secara lebih komprehensif, guna menajamkan orisinalitasnya,'' ujar Giyono.

Hal senada dikemukakan oleh pegiat seni yang juga merupakan seorang pendidik di Kudus, Mukti Sutarman Espe, yang menganggap perlunya dikaji nilai kesejarahan dari legenda-legenda tersebut untuk menentukan kadar otentitas dan objektivitasnya, jika hal tersebut dimaksud untuk menggali unsur historisnya.


Sumber: Suara Merdeka

Asal Usul Desa Gondoarum


Di Kabupaten Kudus bagian timur, ada sebuah desa yang bernama Gondoarum, terletak di Kecamatan Jekulo dan berbatasan dengan Kabupaten Pati. Syahdan, dari cerita yang turun temurun disebarkan oleh para tetua, pada zaman penjajahan Belanda terdapatlah seorang martir bernama Mbah Sewa Negara (Sewonegoro).

Kakek yang dikenal keras hati tersebut, mempunyai seorang cucu bernama Kasim. Suatu ketika, cucu yang berselisih paham dengan kakeknya tersebut meninggalkan pepundhen-nya itu untuk berkelana, sampai akhirnya bertemu dengan seorang putri cantik jelita.

Ketika dijumpai, putri tersebut terlihat menyelipkan bunga di atas telinganya, hingga membuat bau harum di sekitarnya. Dalam beberapa rentang waktu kemudian, daerah tersebut dikenal dengan nama Desa Gondoarum.

''Meskipun legenda tersebut didapat dari keterangan beberapa sesepuh masyarakat di desa tersebut, namun sampai saat ini kejelasan hal itu masih terus kami teliti,'' katanya.

Legenda-legenda kesejarahan tersebut, ujar Giyono, dijadikan satu dalam bentuk kumpulan data kesejarahan dan nilai kultural Kabupaten Kudus. Data tersebut, nantinya akan dijadikan acuan bagi Pemkab umumnya dan Disparbud khususnya, untuk menyusun sejarah Kota Kudus secara lebih komprehensif.

''Tentunya, dengan juga melibatkan ahli kesejarahan untuk mengaji sejauh mana kebenaran cerita-cerita tersebut,'' tambah Giyono yang mengaku baru menggali beberapa legenda sejumlah desa di Kudus, untuk menelusuri asal-usul kesejarahannya.

Nama Loram dari Pohon Lo

Desa Loram Kulon merupakan salah satu dari 14 desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Desa tersebut terkenal sebagai kawasan home industry mulai dari tas sampai tekstil.  Tetapi, mungkin tidak banyak yang tahu, mengapa desa itu dinamakan Loram?

Berdasarkan beberapa literatur yang mulai menguning, karena usianya yang makin renta, yang tersudut di beberapa perpustakaan di Kudus, nama itu ternyata menyimpan cerita unik. Belum lagi bahan kajian kesejarahan yang didapat oleh pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus, melalui Kasi Kebahasaan, Kesenian, dan Nilai Tradisional (KKNT).

''Beberapa desa yang kami teliti, ternyata mengandung cerita yang mungkin saja tidak banyak diketahui orang, apalagi generasi yang terlahir belakangan ini,'' kata Giyono, yang mengepalai KKNT.

Ketika dirunut dari sejumlah sumber, misalnya dari sesepuh desa, kata dia, nama Loram diperkirakan mempunyai hubungan dengan pohon bernama lo, yang dulu sering digunakan untuk bertapa oleh penguasa kerajaan Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya, saat ia mengembara dan bersemedi di suatu tempat.

Di tempat itulah, ratusan tahun kemudian, orang melihat pohon lo yang tumbuh besar, seperti raksasa, serta masih berdiri kukuh.

Mereka, warga desa tersebut, melihat sesuatu yang ngeram-erami (mengherankan). Karena itu, kemudian mereka menyebutnya lo dan ram, sehingga lama-lama daerah itu dikenal dengan nama Loram.

Sumber: Suara Merdeka