Senin, 09 Mei 2011

Bordir Kudus Tembus Malaysia







KUDUS, KOMPAS.com - Produksi bordir industri rumah tangga di Kabupaten Kudus dan Rembang, Jawa Tengah, meningkat 25-30 persen. Pemasarannya bahkan mampu menembus Malaysia dan Timur Tengah meski masih melalui perantara.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop UMKM) Kabupaten Rembang, pada 2009 produksi bordir 302.175 kodi. Pada 2010, produksi bertambah menjadi 402.900 kodi.

Ada pun di Kudus, kenaikan produksi dan permintaan bordir diindikasikan dengan pengingkatan pendapatan para perajin bordir, terutama di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog. Pada tahun-tahun sebelumnya, pendapatan bersih Rp 1 juta - Rp 2 juta per bulan, dan pada 2010 menjadi Rp 3 juta - Rp 5 juta per bulan.

Kepala Bidang Perindustrian Disperindagkop UMKM Kabupaten Rembang, Sudirman, Minggu (27/2/2011), mengatakan, produksi bordir meningkat dan permintaan pasar terpenuhi berkat penerapan teknologi. Dari tujuh pengusaha, tiga diantaranya telah mengunakan mesin bordir berbasis komputer.
"Setiap hari, mesin itu mampu memproduksi 300 potong bordir. Berkat teknologi itu pula, permintaan pasar lokal, bahkan pasar Malaysia dan Timur Tengah terpenuhi, terutama bordir untuk busana muslim," kata dia.

Menurut Sudirman, para pengusaha bordir itu mampu mengirim rata-rata 35.000 kodi per bulan ke Malaysia. Nilai ekspor bordir per bulan rata-rata Rp 50 juta.

Namun, Sudirman menyayangkan para pengusaha belum mampu mandiri mengekspor bordir ke Malaysia dan Timur Tengah. Saat ini ekspor ke Malaysia diperantarai orang Jakarta dan ke Timur Tengah orang Malaysia.

"Untuk itu, pemerintah akan berupaya memfasilitasi pengusaha bordir agar bisa bertemu langsung dengan eksportir melalui pameran-pameran kerajinan berskala nasional dan internasional," kata dia.
Secara terpisah, Kepala Desa Padurenan, Arif Chuzaimahtum, mengemukakan, pemasaran bordir memang telah menembus pasar Malaysia. Namun, hal itu masih terbatas bagi segelintir pengusaha yang mempunyai relasi di sana.

Pemerintah desa berharap ekspor itu dapat dilakukan pula pengusaha-pengusaha lain yang tergabung dalam koperasi bordir dan konveksi. Pasalnya, koperasi telah mempunyai mesin bordir berbasis komputer yang memungkinkan penambahan produksi atas permintaan pasar.

"Kami juga berharap Pemerintah Kabupaten Kudus turut membantu pengembangan pasar bordir baik di dalam maupun luar negeri," kata dia.

Pada 2010, Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Kudus mencatat di Kudus terdapat 412 unit usaha bordir dengan tenaga kerja berjumlah 6.292 orang. Usaha itu mendukung 1.527 usaha pakaian jadi yang menyerap tenaga kerja sebanyak 24.578 orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar